Apple Luncurkan Vision Pro Air: Lebih Ringan, Lebih Murah, Siap Gantikan iPad?

Dunia teknologi baru saja diguncang. Setelah dua tahun sejak perilisan perdana Vision Pro yang fenomenal (dan super mahal), Apple akhirnya menjawab doa para pengamat teknologi dan pengguna yang lehernya pegal: Vision Pro Air resmi mendarat di pasar pada awal 2026 ini.

Sebagai seseorang yang sudah berkecimpung di industri teknologi selama lebih dari satu dekade, saya melihat pola yang sangat familiar di sini. Ini adalah “momen MacBook Air” atau “momen iPad 2” untuk kategori spatial computing. Apple baru saja mengubah mainan mewah untuk para sultan dan pengembang menjadi perangkat yang, well, hampir bisa dibeli oleh orang normal.

Tapi pertanyaannya: Apakah Vision Pro Air benar-benar layak masuk ke tas kerja Anda, atau ini hanya versi “diet” yang terlalu banyak disunat fiturnya? Mari kita bedah secara mendalam.


Spesifikasi Vision Pro Air: Apa yang Berubah?

Banyak yang skeptis saat rumor Vision Air beredar tahun lalu. Bagaimana Apple bisa memangkas harga hampir separuhnya tanpa merusak pengalaman “magis” yang mereka banggakan? Jawabannya ada pada pemilihan material dan efisiensi komponen.

1. Bobot: Selamat Tinggal Leher Pegal

Masalah terbesar Vision Pro generasi pertama adalah beratnya yang mencapai 600–650 gram. Di Vision Pro Air, Apple berhasil memangkas bobotnya hingga 40% lebih ringan. Perangkat ini sekarang beratnya hanya sekitar 360 gram.

Rahasianya? Apple mengganti material kaca tebal dan alumunium premium di bagian depan dengan polikarbonat kelas atas dan material komposit ringan. Hasilnya? Anda bisa memakainya selama 3 jam menonton film tanpa merasa seperti sedang latihan otot leher.

2. Chipset dan Performa

Jika Vision Pro terbaru (model 2026) sudah menggunakan chip M5 yang super bertenaga, spesifikasi Vision Pro Air hadir dengan chip M3 yang sudah dioptimalkan. Meski bukan yang terbaru di lini Mac, untuk urusan spatial computing harian, M3 masih sangat overkill.

Apple juga menyematkan chip R2 (evolusi dari R1) untuk menangani latensi sensor. Kabar baiknya, passthrough (kemampuan melihat dunia nyata melalui kacamata) tetap terasa mulus dengan latensi di bawah 12 milidetik.

3. Layar: Micro-OLED yang Tetap Tajam

Salah satu ketakutan terbesar adalah Apple akan beralih ke layar LCD murah. Untungnya, itu tidak terjadi. Vision Pro Air tetap menggunakan Micro-OLED, namun dengan kerapatan piksel yang sedikit diturunkan dari model Pro. Mata manusia biasa hampir tidak akan melihat perbedaannya, kecuali jika Anda memang seorang editor warna profesional.


Harga Vision Pro Air: Masuk Akal untuk Dompet?

Mari bicara angka yang paling ditunggu. Saat Vision Pro diluncurkan dengan harga $3,499 (sekitar Rp55-60 jutaan), banyak orang langsung mundur teratur.

Harga Vision Pro Air secara mengejutkan dipatok mulai dari $1,599. Di Indonesia, kita bisa berekspektasi harganya akan berada di kisaran Rp25 juta hingga Rp28 jutaan tergantung pajak dan distributor.

Berikut perbandingannya dengan lini produk Apple lainnya:

FiturVision Pro (M5)Vision Pro AiriPad Pro 13″ (2026)
Harga Mulai$3,499$1,599$1,299
Bobot Headset~750g~360gN/A (Tablet)
ChipsetM5 + R1M3 + R2M4/M5
LayarDual 4K Micro-OLED2K+ Micro-OLEDUltra Retina XDR
EyeSightAda (Layar Eksternal)Tidak AdaN/A
MaterialAluminium & KacaPolikarbonat & KainAluminium

Vision Pro Air vs. iPad: Apakah Era Tablet Berakhir?

Ini adalah debat yang paling panas di forum-forum teknologi. Dengan harga yang hanya selisih beberapa juta dari iPad Pro 13 inci plus Magic Keyboard, banyak yang mulai bertanya: “Kenapa saya harus beli iPad kalau saya bisa punya layar bioskop 100 inci di wajah saya?”

Alasan Vision Pro Air Siap Menggantikan iPad:

  • Multitasking Spasial: Di iPad, Anda terbatas pada layar 11 atau 13 inci. Di Vision Pro Air, Anda bisa membuka 5 jendela aplikasi sekaligus di udara—Safari di kiri, Slack di kanan, dan Apple Music di atas.
  • Konsumsi Konten: Untuk menonton Netflix atau Disney+, tidak ada perangkat yang bisa mengalahkan pengalaman imersif Vision Pro Air. iPad terasa seperti melihat melalui lubang kunci dibandingkan ini.
  • Produktivitas Ringan: Menulis email, mengedit dokumen di Pages, atau melakukan panggilan FaceTime terasa jauh lebih masa depan dan efisien secara visual.

Mengapa iPad Masih Bertahan:

  • Friction (Hambatan Penggunaan): Menggunakan iPad hanya butuh satu detik: ambil dan nyalakan. Vision Pro Air tetap membutuhkan ritual “memakai perangkat” di kepala.
  • Kolaborasi Fisik: Anda tidak bisa dengan mudah menunjukkan layar Vision Pro ke teman di sebelah Anda. iPad tetap raja untuk presentasi tatap muka secara cepat.
  • Daya Tahan Baterai: Dengan baterai eksternal, Vision Pro Air hanya bertahan sekitar 2,5 jam. iPad Pro bisa menemani Anda seharian penuh.

Kekurangan dan Kelebihan Vision Pro Air

Sebelum Anda berlari ke iBox atau Apple Store terdekat, penting untuk memahami bahwa produk “Air” ini punya kompromi yang nyata.

Kelebihan:

  • Harga Jauh Lebih Terjangkau: Membuka akses ke ekosistem visionOS bagi lebih banyak orang.
  • Kenyamanan Maksimal: Bobot 360g adalah game changer. Anda tidak akan lagi merasa terbebani saat pemakaian lama.
  • Ekosistem Aplikasi 2026: Di tahun 2026, aplikasi visionOS sudah sangat matang. Hampir semua aplikasi iPad populer kini punya versi spasial yang native.
  • Tanpa EyeSight: Bagi banyak orang, fitur EyeSight (mata digital di luar headset) itu aneh dan creepy. Apple menghilangkannya di versi Air, yang justru membuat desainnya lebih bersih dan baterai lebih awet.

Kekurangan:

  • Baterai Masih Eksternal: Anda masih harus mengantongi baterai dengan kabel yang menjuntai. Belum ada baterai internal untuk versi ini demi menjaga bobot tetap ringan.
  • Kualitas Audio: Speaker spatial audio tetap ada, tapi tidak segelegar versi Pro. Sangat disarankan menggunakan AirPods Pro 3 untuk pengalaman maksimal.
  • Field of View (FoV): Ada sedikit penurunan luas pandangan dibandingkan versi Pro, meski tidak terlalu mengganggu untuk penggunaan harian.

Opini Tajam: Apakah Ini Saatnya Membeli?

Sebagai orang yang sudah mencoba hampir semua headset VR/AR dari zaman Oculus Rift hingga Quest 3, saya bisa katakan: Vision Pro Air adalah produk yang seharusnya menjadi rilis pertama Apple.

Vision Pro original adalah demonstrasi teknologi—sebuah prototipe mahal yang dibiayai oleh para early adopter. Tapi Vision Pro Air? Ini adalah produk konsumen massal yang sebenarnya. Apple akhirnya sadar bahwa orang lebih peduli pada kenyamanan leher dan saldo bank daripada fitur mewah seperti layar luar (EyeSight) yang jarang dilihat oleh pemakainya sendiri.

Jika Anda adalah seorang mahasiswa, pekerja kreatif yang mobile, atau sekadar tech-enthusiast yang ingin merasakan masa depan komputer tanpa harus menjual ginjal, ini adalah saatnya.


Kesimpulan

Apple Vision Pro Air bukan sekadar versi murah. Ini adalah langkah strategis Apple untuk mematikan pasar tablet kelas atas dan memindahkan kita semua ke era komputer spasial. Dengan bobot yang lebih manusiawi dan harga yang kompetitif, Vision Pro Air siap menjadi perangkat pendamping—atau bahkan pengganti—iPad Pro Anda.

Jadi, siap beralih ke layar spasial atau tetap setia dengan layar sentuh?

Leave a Comment